Translate

Kamis, 12 Juni 2014

D I A


Dia adalah awal dan akhir dalam cerita ini. Dia tak pernah menjadi tokoh utama dalam sekenario ini namun, dia berhasil menjadi pusat pandanganku, pembicaraanku, dan pikiranku. Dia datang bagai angin, berhembus datang lalu menghilang dan membekas, dia berhasil mengajariku tentang sebuah kata yang sebelumnya tak pernah terpikir, yang sebelumnya hanya khayalan, yang sebelumnya tak pernah ku yakini. Tetapi dia menjadikannya ada dan nyata.
……
            Hembusan angin menerpa sayup kuyup air mataku. Aku mengenangnya karena dia terlalu mempesona, satu tahun ini aku berhasil membuatnya pergi dari hatiku dan begitu tenang hingga tak bersisa. Lamunan itu membuatku tersadar bahwa aku tlah terlambat masuk kelas baru, kelas XII IPS 3 yang berarti usiaku semakin dewasa dan tentunya pemikiran serta sudut pandagku harus semakin dewasa pula.
            Tarikan nafas panjangku sebelum memasuki kelas itu, kelas yang dari dahulu ingin aku pijak’I untuk 1 tahun di kelas XII, yess dan akhirnya keberuntungan itu muncul juga untukku. Ketika aku baru akan melangkah , dari belakang ada seseorang yang sengaja menabrakku hingga aku menabrak orang lain di depanku. Ketika seseorang itu menoleh ke arahku, jantung ini berdegup lagi lebih cepat seperti  deruman drumband dan aku  hanya melongo melihatnya terpaku, OH NO,,,aku mohon jangan dia, sang pemilik ekspresi ini.
“ anik,,,? Apa kamu baik – baik saja ?” Tanya dia lembut yang menyadarkan lamunanku,
“ maaf ” langsung berbalik menjauh.
            Kejadian itu membuat semua keberuntungan itu lenyap dan berubah menjadi hari – hari yang menjengkelkan di kelas impianku, seolah masa lalu itu merengkuhku kembali. Aku begitu takut monster hati itu datang dan mengacak – ngacak hati ini lagi, aku sungguh ketakutan ya Allah.
            Hari itu ketika pulang sekolah aku sengaja keluar terlebih dahulu dan berlari meluncur cepat dengan menoleh kebelakang untuk sekedar melihat wajahnya yang teduh. Membuatku tak sadar aku tlah menabrak seorang adik kelas satu tingkat di bawahku. Namun, aku langsung pergi meninggalkannya tanpa meminta maaf atau sekadar tersenyum.
Dari sinilah semuanya berawal….
            Aku merasa aku adalah tokoh utama dalam film kehidupanku. Aku mengira bahwa di dunia ini hanya aku yang merasakan kekecewaan, kesedihan, keterpakuan, dan kedinginan malam. Namun, dia menyadarkanku bahwa di dunia ini tersusun dari banyak film yang bukan hanya aku atau dia dan dia pelaku utamanya, tapi semua orang dengan kehidupan dan alur cerita yang berbeda – beda yang pastinya tidak hanya berisi kebahagiaan atau tawa saja karena hukum alam masih berlaku.
            Dia berada di tempat yang sama ketika kemarin aku menabraknya, dengan wajah anehnya dia menatapku ketika aku berjalan pulang. Aku menunduk dan berjalan pelan bersiasat agar dia tidak menuntutku untuk melakukan hal yang aneh – aneh, ( seperti adik kelas pada umumnya yang sangat dan sungguh menyebalkan). Tapi naas hari itu ketika aku berhasil melewatinya satu langkah, ternyata dia menyeret tasku dan berkata,
            “ tidakkah kau merasa bersalah ? “ dengan wajah cemberutnya.
            “ apa seh ? apa ada urusan ? apa kita pernah bertemu ? aku merasa tak mengenalmu tapi kenapa kamu menarik tasku ? kalau fans, gabung aja di Anik fansclub oke yess” berusaha mengelak dan melepas tangannya.
Dia hanya diam dan tak melepaskan gengaman tangannya pada tasku. “ aku kara, tidak ingin menjadi fansmu.” Jawabnya singkat lalu pergi.
“Apakah aku yang salah? Apa aku melakukan sesuatu hal yang menyakitinya ? entahlah, kenapa pula aku harus memikirkan orang itu,” gumamku sendirian.
Perasaan bersalah itu muncul dan memaksaku untuk meminta maaf sebab bagaimana pun itu salahku. Akhirnya untuk beberapa hari terakhir aku bingung dengan apa yang harus kulakukan dan perasaan bersalah itu semakin memaksaku untuk memperhatikannya. Memperhatikan kehidupannya yang membingungkan.
            Hari selasa tanggal 13 maret 2012 ketika aku sedang sibuk mempersiapkan program beasiswaku, dia melewatiku dan nama yang tertulis di bajunya adalah Brastangkara. Dia tak melirikku sedikit pun, perasaan bersalah itu muncul lebih kuat menekanku untuk berkata maaf! Namun, tak mungkin aku lakukan saat itu juga, emangnya aku mau bunuh diri menahan malu ? oh no no no,,,
            Setelah beberapa hari, akhirnya aku memutuskan untuk minta maaf melalui akun facebooknya dengan mengirimkan sebuah pesan,
Dear Aku tak tau siapa,
            Maaf untuk sebuah insiden yang membuatku merasa bersalah dengan semuanya, maaf!
Anikdatul milla
Economius
            Setelah beberapa hari itu, aku lebih sering membuka facebook dan menunggu balasannya. Ternyata setelah satu minggu aku mengirimkan pesan itu dia membalasnya,
Dear Anik kakak kelas yang menyebalkan,
            Namaku kara, bisakah kau memnaggilku dengan nama yg bagus itu ? oke fine lupakan pertemuan pertama yang miris itu.
Kar A,,,
            Dan aku hanya tersenyum membaca pesan itu tanpa membalasnya. Sebenarnya aku ingin membalas pesan itu tapi, terlalu sulit utuk mengetik sebuah kata yang berartikan pertemanan.
…….
Bila rasa itu datang untuk kedua kalinya,
aku ingin sang pemilik rasa itu hanya tersenyum padaku,
dan berjanji menjaganya untukku, walau aku tahu,
terlalu sulit dan sulit utuk memulainya lagi,
sebab hati ini tlah terluka untuk badai kemarin.
Puisi yang kubuat saat aku bingung deengan apa yang terjadi dan harus bagaimana aku menanggapimu, sementara kau juga tau bahwa kisah itu telah berakhir dan tak akan ada awal lagi untuk memulainya atau sekedar berucap hai pada kenangan. Aku memutuskan untuk online dan ternyata ada sebuah nama dalam chattingku yang kutau itu kara,
KarA,,,: “ kenapa pesanku kemarin ngak di bales ?”
Anikdatul economius: “maaf, lagi  ngak pengen diganggu”
KarA,,,: “baiklah,,”
Anikdatul economius: “di dunia ini apa ngak ada cowok yang bisa dipercayah ?”
KarA,,,: “emang.nya kenapa? Aku bisa dipercayah!”
Aku tak membalas pesannya karena kupikir kenapa aku harus curhat pada dia? Orang yang Cuma bisa ngerecokkin aja. Tapi semenjak chatting tersebut, aku dan dia mulai dekat dan memutuskan saling bersahabat, tetapi dia tak pernah memangilku dengan kata mbak. Padahal aku kan kakak kelasnya yang pasti lebih tua dan dewasa dari dia.
            Hari minggu 16 mei 2012 aku menunggunya tanding basket dengan sekolah lain. Sebenarnya aku tak punya maksud untuk melihat dia, hanya kebetulan saja ketika aku ada olimpiade di sekolahku yang diselengarakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri di surabaya. Namun, hari itu hari yang kejam buat kita berdua karena dia kalah dalam pertandingan dan aku pun kalah dalam olimpiade yang baru pertama kalinya aku kalah semenjak aku menjadi juara nasional untuk lomba sosiologi.
            Ketika aku menunggunya dia malah meninggalkanku pulang dengan teman-temannya yang notabennya juga pemain basket. Memang aku juga salah sih tidak mengatakan pada dia tapi seharusnya dia juga tau orang aku jelas – jelas ada di hadapannya. Apa aku terlalu sepele untuk diperhatikan?
            Satu minggu setelah kejadian itu aku bertemu dengannya di musholla SMAku. Dia sedang bersama temannya dan begitu pula aku, dia tersenyum padaku.
            “kenapa ngak lihat kemaren ?” Tanya dia.
Aku cemberut dan melepaskan sepatuku untuk beranjak sholat dhuhur, “ dilihat malah ditinggalin” jawabku jutek bermksud menyindir.
            “ kapan kamu lihat ? orang ngak ada gitu” jawabnya nyolot.
Aku hanya diam dan berfikir, jelas – jelas aku kemaren berjalan di depannya dan dia melihatku tapi kenapa dia jawab begitu?
“wah,,,putus – putus ae “ sambar ati, salah satu temanku.
“ kenapa putus ? aku loh bukan siapa – siapa dia, “ jawabnya dengan tersenyum.
            Aku langsung beranjak pergi meniggalkan dia dan bingung memikirkan semua perkataannya. Aku memutuskan untuk melupakan semua kejadian itu dan mengantinya dengan teori – teori ilmu geografiku. Lebih baik daripada memikirkan sesuatu yang belum tentu dia juga memikirkan hal yang sama.
            Ketika pulang sekolah dia menawariku untuk pulang bersama dan aku pun menerimanya karena pada saat itu, aku hanya pulang bersama teman yang rumahnya dekat dari sekolah bukan bersama teman yang sehari – harinya pulang bersamaku. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, tetapi dia berbicara dan bertanya dengan kecerewetannya tentangku. Namun, lagi – lagi aku tetap diam berusaha menutup telingaku.
            “ terima kasih” aku langsung pergi meninggalkannya tanpa memberikan seuntai senyuman.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
            Beberapa hari telah berlalu, hubunganku dan dia semakin rengang. Tanpa bertemu dan tanpa komunikasi, padahal kelas kita bersebrangan. Hari itu tanggal 21 agustus 2012 aku sadar bahwa aku mulai kehilangannya. Dia tak pernah mengucapkan hai lagi padaku, dia tak pernah tersenyum lagi padaku, dia tak pernah menoleh ke belakang lagi untuk melihatku, dia tak pernah mengajak aku pulang bersamanya lagi, dia hanya diam ketika kita bertemu, dia seperti menganggap aku tidak ada, dia tak pernah lagi membalas chattingku, dan dia tak pernah lagi melirikku. Apakah ketika aku merasa kehilangannya berarti aku mulai menyukainya ?
            Hari – hari berjalan terlalu standart sejak dia menghilang. Aku tetap slalu memperhatikannya melalui akun facebooknya. Dan taukah kau, hari ini tanggal  12 september 2012 dia mengupload fotonya dengan seorang wanita yang sangat cantik yang sedang merangkulnya. Hati ini serasa protes dengan foto itu dan seketika itu aku meneteskan air mata. Tanpa sadar bergulir begitu cepat hingga aku sendiri tak mampu membendungnya. Perasaan apakah ini ? apa aku benar – benar menyukainya ? aku langsung menutup laptopku dan meninggalkannya di kamarku.
            Sejak saat itu aku memutuskan untuk melupakan semuanya dan mencoba berdamai dengan hatiku. Aku melakukan berbagai kegiatan untuk melupakannya, aku berusaha focus dan membuat target – target dalam hidupku. Ketika try out pertama, aku berhasil menjadi siswa dengan nilai tertinggi di sekolahku baik ipa maupun ips. Semuannya bahagia karena nilai itu, terkecuali aku yang hanya merasa biasa dengan hal itu. Bagaimana pun masalah kekecewaan itu dan kesedihan itu mengalahkan rasa bahagia.
            Terlampau sulit untuk membuang perasaan itu sebab sang asal muasal tetap menampakkan diri namun hanya diam dan berjalan pergi menggangapku seperti sebuah patung yang tak berguna. Jalan yang kulewati saat ini benar – benar tanpa dia, tanpa dia …
            Tahun pun berganti, bulan pun berganti, dan hari pun berganti meringankan sedikit luka di hati ini. Memang benar, waktu adalah obat untuk menyembuhkan sakit hati. Aku mulai membuka diriku untuk orang lain, berteman, bersahabat, dan berusaha memperbarui hati ini lagi untuk kehidupan dan orang baru. Namun, entah mengapa sedikit banyak perasaan itu masih ada dan membuatku selalu mengingat semuanya.
            Media yang kugunakan untuk mengungkapkan semua rasa kecewa dan sakit hati itu adalah facebook yang sedikit lebih menenangkanku. Setiap hari aku slalu menuliskan tentang perasaanku padanya.
 Update status :
            Dear A_A : “ tauhkah kau hari ini aku benar – benar merindukanmu “
Besok malam harinya lagi,
            Dear A_A : “ apakah kamu menyadari bahwa perasaan itu tak pernah bisa hilang “
Besok malamnya lagi,
            Dear A_A : “ aku masih menunggumu datang dan aku slalu ada di sini untukmu “
Dan lagi, dan lagi, dan lagi hingga tak terhitung jumlahnya.
            Sayangnya semua itu sudah tidak bisa merubah apapun lagi dalam hubungan ini, hubungan yang hanya satu pihak saja. Bahkan tidak bisa membuat aku dengannya dekat seperti dulu. Terkadang, semua hal tentangnya terlalu menyakitkan untuk dibicarakan tetapi, terkadang mengingat semua yang tlah lalu bisa mengobati sedikit rasa ini.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………....
            Pagi ! pagi adalah waktu yang paling indah, dimana semua lembaran baru akan terbuka, menulis di setiap kertas putih tanpa noda dan ketika fajar dapat menyapa, semburat – semburat warna orange berpadu merah menyala, biru, dan putih mengambarkan semangat baru.
 “ apa kabar grandong ? hari ini aku akan melepasmu, bisakah kau juga melepaskanku ? ” bicara sendiri menatap fajar pagi.
“ hari ini juga aku akan merelakanmu, bisakah kau merelakanku ? hari ini pula terakhir aku membicarakanmu dengan fajar pagi, bisakah kau pergi ? dan hari ini aku akan menganti namamu dengan nama orang lain, bisakah kau menerimanya ? Good bye untuk yang terakhir, aku sangat merindukanmu tapi aku harus melepaskanmu, Grandong Brastangkara. “ air mata menetes tanpa memberi rambu – rambu warna merah untuk berhenti.
 Dua puluh menit menangis, aku bergegas keluar dari kamar karena Dion sudah menungguku semenjak 15 menit yang lalu. Ekspresinya yang sendu dan tenang dengan senyum mengembang selaras dengan ketampanan wajah putih yg proporsional itu, sunguh luar biasa. Otak yang cerdas, pemain sepak bola, anak unggulan di sekolahnya, dan wajah yang tampan. Sepertinya tidak ada kekurangan darinya. Namun, anehnya aku tak pernah bisa melihat kearahnya dan juga kenapa dia bisa suka denganku yang notabennya cewek biasa dengan kulit coklat sawo matang dan wajah yang tidak cantik, tidak manis, tapi tidak juga jelek.
“ maaf, menunggu terlalu lama ? ” tanyaku dengan memasang senyum termanis yang kumiliki.
“ tentu, sudah 5 bulan aku menunggumu memberikan senyum itu untukku, hehe,,” jawabnya dengan tertawa sopan
“ apa sih,,! “ sengaja aku mencubit lengan kanannya “ mau kemana kita ? “ tanyaku datar
“ jangan datar begitu “ ( mencubit pipiku ) “ kita akan lihat pertandingan basket antara sekolahku dan sekolahmu “
Dek,,, jantungku langsung bergetar, pertandingan basket ? sekolahku ? kara ? semua ingatan tentang kara seakan kembali dalam memori otakku. Hujan yang tadi pagi datang kini datang lagi tetapi dengan cepat tanganku menolak dan mengusirnya. Janji pagi ini lebih penting daripada sebuah tangisan.
“ bisakah kita tidak melihat pertandingan itu ? “ dengan sedikit senyum tipis
“ tidak bisa,,, hari ini aku harus membuat laporan pertangungjawabannya anik,,,! “ jelasnya
Aku hanya diam menatap wajah dion yang memohon, wajah itu yang memaksaku untuk melihat kara.
“ jangan memasang wajah itu ! “ dengan nada sedikit membentak.
Dion mendekat, memandangk dalam – dalam, dan mencubit kedua pipiku, “ ayolah sayang, sejak kapan kau menjadi semanis ini ? “ rayunya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

aritmatika

mtk

gaya lorents

sistem2 saraf

genetika

saraf neouron

genetika