Dia adalah
awal dan akhir dalam cerita ini. Dia tak pernah menjadi tokoh utama dalam
sekenario ini namun, dia berhasil menjadi pusat pandanganku, pembicaraanku, dan
pikiranku. Dia datang bagai angin, berhembus datang lalu menghilang dan
membekas, dia berhasil mengajariku tentang sebuah kata yang sebelumnya tak
pernah terpikir, yang sebelumnya hanya khayalan, yang sebelumnya tak pernah ku
yakini. Tetapi dia menjadikannya ada dan nyata.
……
Hembusan angin menerpa sayup kuyup
air mataku. Aku mengenangnya karena dia terlalu mempesona, satu tahun ini aku
berhasil membuatnya pergi dari hatiku dan begitu tenang hingga tak bersisa.
Lamunan itu membuatku tersadar bahwa aku tlah terlambat masuk kelas baru, kelas
XII IPS 3 yang berarti usiaku semakin dewasa dan tentunya pemikiran serta sudut
pandagku harus semakin dewasa pula.
Tarikan nafas panjangku sebelum
memasuki kelas itu, kelas yang dari dahulu ingin aku pijak’I untuk 1 tahun di
kelas XII, yess dan akhirnya keberuntungan itu muncul juga untukku. Ketika aku
baru akan melangkah , dari belakang ada seseorang yang sengaja menabrakku
hingga aku menabrak orang lain di depanku. Ketika seseorang itu menoleh ke
arahku, jantung ini berdegup lagi lebih cepat seperti deruman drumband dan aku hanya melongo melihatnya terpaku, OH NO,,,aku
mohon jangan dia, sang pemilik ekspresi ini.
“ anik,,,?
Apa kamu baik – baik saja ?” Tanya dia lembut yang menyadarkan lamunanku,
“ maaf ”
langsung berbalik menjauh.
Kejadian itu membuat semua
keberuntungan itu lenyap dan berubah menjadi hari – hari yang menjengkelkan di
kelas impianku, seolah masa lalu itu merengkuhku kembali. Aku begitu takut
monster hati itu datang dan mengacak – ngacak hati ini lagi, aku sungguh
ketakutan ya Allah.
Hari itu ketika pulang sekolah aku
sengaja keluar terlebih dahulu dan berlari meluncur cepat dengan menoleh
kebelakang untuk sekedar melihat wajahnya yang teduh. Membuatku tak sadar aku
tlah menabrak seorang adik kelas satu tingkat di bawahku. Namun, aku langsung
pergi meninggalkannya tanpa meminta maaf atau sekadar tersenyum.
Dari sinilah
semuanya berawal….
Aku merasa aku adalah tokoh utama
dalam film kehidupanku. Aku mengira bahwa di dunia ini hanya aku yang merasakan
kekecewaan, kesedihan, keterpakuan, dan kedinginan malam. Namun, dia
menyadarkanku bahwa di dunia ini tersusun dari banyak film yang bukan hanya aku
atau dia dan dia pelaku utamanya, tapi semua orang dengan kehidupan dan alur
cerita yang berbeda – beda yang pastinya tidak hanya berisi kebahagiaan atau
tawa saja karena hukum alam masih berlaku.
Dia berada di tempat yang sama
ketika kemarin aku menabraknya, dengan wajah anehnya dia menatapku ketika aku
berjalan pulang. Aku menunduk dan berjalan pelan bersiasat agar dia tidak
menuntutku untuk melakukan hal yang aneh – aneh, ( seperti adik kelas pada
umumnya yang sangat dan sungguh menyebalkan). Tapi naas hari itu ketika aku
berhasil melewatinya satu langkah, ternyata dia menyeret tasku dan berkata,
“ tidakkah kau merasa bersalah ? “
dengan wajah cemberutnya.
“ apa seh ? apa ada urusan ? apa kita
pernah bertemu ? aku merasa tak mengenalmu tapi kenapa kamu menarik tasku ?
kalau fans, gabung aja di Anik fansclub oke yess” berusaha mengelak dan melepas
tangannya.
Dia hanya
diam dan tak melepaskan gengaman tangannya pada tasku. “ aku kara, tidak ingin
menjadi fansmu.” Jawabnya singkat lalu pergi.
“Apakah aku
yang salah? Apa aku melakukan sesuatu hal yang menyakitinya ? entahlah, kenapa
pula aku harus memikirkan orang itu,” gumamku sendirian.
Perasaan bersalah itu muncul dan memaksaku untuk meminta maaf
sebab bagaimana pun itu salahku. Akhirnya untuk beberapa hari terakhir aku
bingung dengan apa yang harus kulakukan dan perasaan bersalah itu semakin
memaksaku untuk memperhatikannya. Memperhatikan kehidupannya yang
membingungkan.
Hari selasa tanggal 13 maret 2012
ketika aku sedang sibuk mempersiapkan program beasiswaku, dia melewatiku dan
nama yang tertulis di bajunya adalah Brastangkara. Dia tak melirikku sedikit
pun, perasaan bersalah itu muncul lebih kuat menekanku untuk berkata maaf!
Namun, tak mungkin aku lakukan saat itu juga, emangnya aku mau bunuh diri
menahan malu ? oh no no no,,,
Setelah beberapa hari, akhirnya aku
memutuskan untuk minta maaf melalui akun facebooknya dengan mengirimkan sebuah
pesan,
Dear Aku tak
tau siapa,
Maaf untuk sebuah insiden yang
membuatku merasa bersalah dengan semuanya, maaf!
Anikdatul milla
Economius
Setelah beberapa hari itu, aku lebih
sering membuka facebook dan menunggu balasannya. Ternyata setelah satu minggu
aku mengirimkan pesan itu dia membalasnya,
Dear Anik
kakak kelas yang menyebalkan,
Namaku kara, bisakah kau memnaggilku
dengan nama yg bagus itu ? oke fine lupakan pertemuan pertama yang miris itu.
Kar A,,,
Dan aku hanya tersenyum membaca
pesan itu tanpa membalasnya. Sebenarnya aku ingin membalas pesan itu tapi, terlalu
sulit utuk mengetik sebuah kata yang berartikan pertemanan.
…….
Bila rasa itu datang untuk kedua
kalinya,
aku ingin sang pemilik rasa itu hanya
tersenyum padaku,
dan berjanji menjaganya untukku,
walau aku tahu,
terlalu sulit dan sulit utuk memulainya
lagi,
sebab hati ini tlah terluka untuk
badai kemarin.
Puisi yang
kubuat saat aku bingung deengan apa yang terjadi dan harus bagaimana aku
menanggapimu, sementara kau juga tau bahwa kisah itu telah berakhir dan tak akan
ada awal lagi untuk memulainya atau sekedar berucap hai pada kenangan. Aku
memutuskan untuk online dan ternyata ada sebuah nama dalam chattingku yang
kutau itu kara,
KarA,,,: “ kenapa pesanku kemarin ngak di
bales ?”
Anikdatul
economius: “maaf,
lagi ngak pengen diganggu”
KarA,,,: “baiklah,,”
Anikdatul
economius: “di dunia
ini apa ngak ada cowok yang bisa dipercayah ?”
KarA,,,: “emang.nya kenapa? Aku bisa
dipercayah!”
Aku tak
membalas pesannya karena kupikir kenapa aku harus curhat pada dia? Orang yang Cuma
bisa ngerecokkin aja. Tapi semenjak chatting tersebut, aku dan dia mulai dekat
dan memutuskan saling bersahabat, tetapi dia tak pernah memangilku dengan kata
mbak. Padahal aku kan kakak kelasnya yang pasti lebih tua dan dewasa dari dia.
Hari minggu 16 mei 2012 aku
menunggunya tanding basket dengan sekolah lain. Sebenarnya aku tak punya maksud
untuk melihat dia, hanya kebetulan saja ketika aku ada olimpiade di sekolahku
yang diselengarakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri di surabaya. Namun,
hari itu hari yang kejam buat kita berdua karena dia kalah dalam pertandingan
dan aku pun kalah dalam olimpiade yang baru pertama kalinya aku kalah semenjak
aku menjadi juara nasional untuk lomba sosiologi.
Ketika aku menunggunya dia malah
meninggalkanku pulang dengan teman-temannya yang notabennya juga pemain basket.
Memang aku juga salah sih tidak mengatakan pada dia tapi seharusnya dia juga
tau orang aku jelas – jelas ada di hadapannya. Apa aku terlalu sepele untuk
diperhatikan?
Satu minggu setelah kejadian itu aku
bertemu dengannya di musholla SMAku. Dia sedang bersama temannya dan begitu
pula aku, dia tersenyum padaku.
“kenapa ngak lihat kemaren ?” Tanya
dia.
Aku cemberut
dan melepaskan sepatuku untuk beranjak sholat dhuhur, “ dilihat malah
ditinggalin” jawabku jutek bermksud menyindir.
“ kapan kamu lihat ? orang ngak ada
gitu” jawabnya nyolot.
Aku hanya
diam dan berfikir, jelas – jelas aku kemaren berjalan di depannya dan dia
melihatku tapi kenapa dia jawab begitu?
“wah,,,putus
– putus ae “ sambar ati, salah satu temanku.
“ kenapa
putus ? aku loh bukan siapa – siapa dia, “ jawabnya dengan tersenyum.
Aku langsung beranjak pergi
meniggalkan dia dan bingung memikirkan semua perkataannya. Aku memutuskan untuk
melupakan semua kejadian itu dan mengantinya dengan teori – teori ilmu
geografiku. Lebih baik daripada memikirkan sesuatu yang belum tentu dia juga
memikirkan hal yang sama.
Ketika pulang sekolah dia menawariku
untuk pulang bersama dan aku pun menerimanya karena pada saat itu, aku hanya
pulang bersama teman yang rumahnya dekat dari sekolah bukan bersama teman yang
sehari – harinya pulang bersamaku. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, tetapi
dia berbicara dan bertanya dengan kecerewetannya tentangku. Namun, lagi – lagi
aku tetap diam berusaha menutup telingaku.
“
terima kasih” aku langsung pergi meninggalkannya tanpa memberikan seuntai
senyuman.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Beberapa hari telah berlalu,
hubunganku dan dia semakin rengang. Tanpa bertemu dan tanpa komunikasi, padahal
kelas kita bersebrangan. Hari itu tanggal 21 agustus 2012 aku sadar bahwa aku
mulai kehilangannya. Dia tak pernah mengucapkan hai lagi padaku, dia tak pernah
tersenyum lagi padaku, dia tak pernah menoleh ke belakang lagi untuk melihatku,
dia tak pernah mengajak aku pulang bersamanya lagi, dia hanya diam ketika kita
bertemu, dia seperti menganggap aku tidak ada, dia tak pernah lagi membalas
chattingku, dan dia tak pernah lagi melirikku. Apakah ketika aku merasa
kehilangannya berarti aku mulai menyukainya ?
Hari – hari berjalan terlalu
standart sejak dia menghilang. Aku tetap slalu memperhatikannya melalui akun
facebooknya. Dan taukah kau, hari ini tanggal 12 september 2012 dia mengupload fotonya
dengan seorang wanita yang sangat cantik yang sedang merangkulnya. Hati ini
serasa protes dengan foto itu dan seketika itu aku meneteskan air mata. Tanpa
sadar bergulir begitu cepat hingga aku sendiri tak mampu membendungnya.
Perasaan apakah ini ? apa aku benar – benar menyukainya ? aku langsung menutup
laptopku dan meninggalkannya di kamarku.
Sejak saat itu aku memutuskan untuk
melupakan semuanya dan mencoba berdamai dengan hatiku. Aku melakukan berbagai
kegiatan untuk melupakannya, aku berusaha focus dan membuat target – target
dalam hidupku. Ketika try out pertama, aku berhasil menjadi siswa dengan nilai
tertinggi di sekolahku baik ipa maupun ips. Semuannya bahagia karena nilai itu,
terkecuali aku yang hanya merasa biasa dengan hal itu. Bagaimana pun masalah
kekecewaan itu dan kesedihan itu mengalahkan rasa bahagia.
Terlampau sulit untuk membuang
perasaan itu sebab sang asal muasal tetap menampakkan diri namun hanya diam dan
berjalan pergi menggangapku seperti sebuah patung yang tak berguna. Jalan yang
kulewati saat ini benar – benar tanpa dia, tanpa dia …
Tahun pun berganti, bulan pun
berganti, dan hari pun berganti meringankan sedikit luka di hati ini. Memang
benar, waktu adalah obat untuk menyembuhkan sakit hati. Aku mulai membuka
diriku untuk orang lain, berteman, bersahabat, dan berusaha memperbarui hati
ini lagi untuk kehidupan dan orang baru. Namun, entah mengapa sedikit banyak
perasaan itu masih ada dan membuatku selalu mengingat semuanya.
Media yang kugunakan untuk
mengungkapkan semua rasa kecewa dan sakit hati itu adalah facebook yang sedikit
lebih menenangkanku. Setiap hari aku slalu menuliskan tentang perasaanku
padanya.
Update status :
Dear A_A : “ tauhkah kau hari ini
aku benar – benar merindukanmu “
Besok malam
harinya lagi,
Dear A_A : “ apakah kamu menyadari
bahwa perasaan itu tak pernah bisa hilang “
Besok
malamnya lagi,
Dear A_A : “ aku masih menunggumu
datang dan aku slalu ada di sini untukmu “
Dan lagi,
dan lagi, dan lagi hingga tak terhitung jumlahnya.
Sayangnya semua itu sudah tidak bisa
merubah apapun lagi dalam hubungan ini, hubungan yang hanya satu pihak saja.
Bahkan tidak bisa membuat aku dengannya dekat seperti dulu. Terkadang, semua
hal tentangnya terlalu menyakitkan untuk dibicarakan tetapi, terkadang
mengingat semua yang tlah lalu bisa mengobati sedikit rasa ini.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………....
Pagi ! pagi adalah waktu yang paling
indah, dimana semua lembaran baru akan terbuka, menulis di setiap kertas putih
tanpa noda dan ketika fajar dapat menyapa, semburat – semburat warna orange
berpadu merah menyala, biru, dan putih mengambarkan semangat baru.
“ apa kabar grandong ? hari ini aku akan
melepasmu, bisakah kau juga melepaskanku ? ” bicara sendiri menatap fajar pagi.
“ hari ini
juga aku akan merelakanmu, bisakah kau merelakanku ? hari ini pula terakhir aku
membicarakanmu dengan fajar pagi, bisakah kau pergi ? dan hari ini aku akan
menganti namamu dengan nama orang lain, bisakah kau menerimanya ? Good bye
untuk yang terakhir, aku sangat merindukanmu tapi aku harus melepaskanmu,
Grandong Brastangkara. “ air mata menetes tanpa memberi rambu – rambu warna
merah untuk berhenti.
Dua puluh menit menangis, aku bergegas keluar
dari kamar karena Dion sudah menungguku semenjak 15 menit yang lalu. Ekspresinya
yang sendu dan tenang dengan senyum mengembang selaras dengan ketampanan wajah
putih yg proporsional itu, sunguh luar biasa. Otak yang cerdas, pemain sepak
bola, anak unggulan di sekolahnya, dan wajah yang tampan. Sepertinya tidak ada
kekurangan darinya. Namun, anehnya aku tak pernah bisa melihat kearahnya dan
juga kenapa dia bisa suka denganku yang notabennya cewek biasa dengan kulit
coklat sawo matang dan wajah yang tidak cantik, tidak manis, tapi tidak juga
jelek.
“ maaf,
menunggu terlalu lama ? ” tanyaku dengan memasang senyum termanis yang
kumiliki.
“ tentu,
sudah 5 bulan aku menunggumu memberikan senyum itu untukku, hehe,,” jawabnya
dengan tertawa sopan
“ apa sih,,!
“ sengaja aku mencubit lengan kanannya “ mau kemana kita ? “ tanyaku datar
“ jangan
datar begitu “ ( mencubit pipiku ) “ kita akan lihat pertandingan basket antara
sekolahku dan sekolahmu “
Dek,,,
jantungku langsung bergetar, pertandingan basket ? sekolahku ? kara ? semua
ingatan tentang kara seakan kembali dalam memori otakku. Hujan yang tadi pagi
datang kini datang lagi tetapi dengan cepat tanganku menolak dan mengusirnya.
Janji pagi ini lebih penting daripada sebuah tangisan.
“ bisakah
kita tidak melihat pertandingan itu ? “ dengan sedikit senyum tipis
“ tidak
bisa,,, hari ini aku harus membuat laporan pertangungjawabannya anik,,,! “
jelasnya
Aku hanya
diam menatap wajah dion yang memohon, wajah itu yang memaksaku untuk melihat
kara.
“ jangan memasang
wajah itu ! “ dengan nada sedikit membentak.
Dion
mendekat, memandangk dalam – dalam, dan mencubit kedua pipiku, “ ayolah sayang,
sejak kapan kau menjadi semanis ini ? “ rayunya